Kanker serviks disebabkan oleh infeksi yang terus-menerus dari Human Papilloma Virus (HPV) tipe onkogenik (yang berpotensi menyebabkan kanker). Telah terbukti bahwa HPV merupakan sebab mutlak terjadinya kanker serviks.
Human Papilloma Virus atau HPV adalah vurus yang menginfeksi area kulit dan organ kelamin. Ada lebih dari 100 jenis tipe HPV yang sudah teridentifikasi. Sebagian menginfeksi kulit dan menghasilkan kutil. Sebagian menginfeksi organ kelamin dan menghasilkan kutil pada organ kelamin. Sementara sebagian lagi menginfeksi organ kelamin yang mengarah pada kanker mulut rahim. Virus-virus tersebut bisa juga menyebabkan kanker vagina, penis dan anus.
Apabila memperhatikan infeksi HPV onkogenik yang persistem maka ditemukan tiga pola utama pada pra kanker, dimulai dengan infeksi pada sel serta perkembangan sel-sel abnormal yang dapat berlanjut menjadi intraepithelial neoplasia dan akhirnya menjadi kanker serviks.
- Cervical intraepithalial neoplasia I (CIN I) atau low grade squamous intraepithelial lesions (LSILs). Dalam tahap ini terjadi perubahan yaitu sel yang terinfeksi HPV onkogenik akan membuat partikel-partikel virus baru.
- Cervical Intraephitalial neoplasia II (CIN II) atau high grade squamous intraepithelial lesions (HSILs). Dalam tahap ini sel-sel semak,in menunjukkan gejala abnormal pra kanker.
- Cervical Intraepithalial Neoplasia III (CIN III) Dalam tahap ini lapisan permukaan serviks dipenuhi dengan sel-sel abnormal dan semakin menjadi abnormal.
- Infeksi persisten dengan HPV onkogenik dapat berkembang menjadi satu atau menunjukkan kehadiran lesi pra kanker seperti CIN I, II dan III dan carcinoma in situ (CIS).
- Kanker serviks yang semakin invasive yang berkembang dari CIN III.
Dengan adanya perkembangan terkini terhadap vaksin inovatif untuk melindungi dari infeksi HPV onkogenik, vaksinasi melawan kanker serviks akan menjadi kenyataan. Terdapat vaksin HPV 16 dan HPV 18 yang mampu mencegah 70% kanker serviks.
DIAGNOSIS PENYAKIT DAN DETEKSI DINI
- Sitologi, Pemeriksaan ini dikenal dengan tes papanicolau (tes pap) sangat bermanfaat untuk mendeteksi kelainan pada mulut rahim (lesi) secara dini. Ketelitiannya melebihi 90% bila dilakukan dengan baik
- Kolposkopi, hampir semua displasia (NIS) terjadi pada daerah transformasi, yaitu daerah yang terjadi akibat perubahan keadaan sel (metaplasia).
- Biopsi atau pengambilan sedikit jaringan, biopsi dilakukan pada daerah yang abnormal, jika sambungan skuamo-Kolumner (SSK) terlihat seluruhnya dengan kolposkopi.
- Kuretase Endoserviks, ini harus dilakukan setelah tindakan biopsi terarah kecuali pada wanita hamil. Tindakan ini dapat memperkecil kemungkinan adanya kanker invasif khususnya bila lesi (kelainan) berada di saluran mulut rahim.
- Konisasi (Biopsi Kerucut), merupakan pengambilan sebagian besar mulut rahim yang diduga mengandung sel-sel prakanker (Displasia berat / NIS III)
- Memakan makan bergizi dan rendah lemak
- Hindari merokok
- Hindari stress
- Perilaku seks yang sehat, tanpa PIL maupun WIL
- Olahraga
- Vaksinasi (paling efektif)
Referensi : Dr. H. Boyke Dia Nugraha, SpOG, MARS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar